Pernah berniat membuka TikTok hanya beberapa menit, tetapi tanpa terasa sudah cukup lama menggulir berbagai video? Kebiasaan seperti ini mungkin terasa sepele. Namun, semakin banyak penelitian yang mulai melihat bagaimana penggunaan TikTok berkaitan dengan kesehatan mental, tidur, kemampuan berkonsentrasi, aktivitas belajar, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri.
TikTok sendiri tidak selalu membawa dampak buruk. Platform ini juga dapat menjadi sarana hiburan, edukasi, berbagi pengalaman, hingga membangun komunitas. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana TikTok digunakan, berapa lama penggunaannya, dan konten seperti apa yang sering dikonsumsi.
Sebuah penelitian oleh Sanjida Haque yang diterbitkan pada Acta Psychologica pada 2026 memetakan 53 publikasi ilmiah mengenai TikTok dan Douyin pada dewasa muda sekitar usia 18–35 tahun selama periode 2016–2025. Penelitian tersebut menemukan lima tema yang paling sering dibahas: kesehatan mental dan kecemasan, gangguan tidur dan penggunaan digital bermasalah, aktivitas akademik, perhatian dan fungsi kognitif, serta citra tubuh dan kepercayaan diri.
Lantas, apa yang sebenarnya ditemukan penelitian?
1. TikTok dan Kesehatan Mental
Penggunaan TikTok dapat menjadi cara seseorang mendapatkan hiburan, informasi, dukungan sosial, atau menemukan komunitas dengan pengalaman yang serupa. Konten mengenai kesehatan mental juga dapat membantu meningkatkan kesadaran terhadap berbagai masalah psikologis.
Di sisi lain, penggunaan yang bermasalah atau sulit dikendalikan dalam sejumlah penelitian berkaitan dengan kecemasan, stres, gangguan suasana hati, dan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Review terbaru terhadap 16 penelitian dengan total 15.821 peserta juga menemukan adanya hubungan antara penggunaan TikTok yang bermasalah dengan gejala depresi dan kecemasan. Namun, seluruh penelitian tersebut bersifat cross-sectional, sehingga belum dapat membuktikan bahwa TikTok secara langsung menyebabkan masalah kesehatan mental.
Artinya, bukan sekadar memiliki aplikasi TikTok yang perlu dikhawatirkan, tetapi ketika penggunaannya mulai sulit dikendalikan atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
2. “Cuma Sebentar” Bisa Mengganggu Waktu Tidur
Salah satu masalah yang cukup sering dibahas adalah penggunaan TikTok menjelang tidur.
Format video pendek yang terus berganti membuat pengguna dapat dengan mudah melanjutkan ke video berikutnya. Penelitian pada remaja dan mahasiswa menemukan bahwa yang lebih konsisten berkaitan dengan masalah tidur bukan sekadar seberapa sering seseorang menggunakan TikTok, tetapi ketika seseorang tetap menggunakan TikTok meskipun sebenarnya memiliki aktivitas lain yang lebih penting untuk dilakukan, termasuk waktu tidur.
Kebiasaan seperti menunda tidur karena terus menggulir video dikenal sebagai bedtime procrastination. Jika berlangsung terus-menerus, waktu tidur dapat berkurang dan tubuh menjadi kurang mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.
3. Apakah TikTok Membuat Kita Sulit Berkonsentrasi?
Konten video pendek membuat informasi datang secara cepat dan berganti-ganti. Karena itu, kemampuan perhatian dan fungsi kognitif menjadi salah satu topik yang mulai banyak diteliti.
Namun, sampai saat ini belum tepat jika dikatakan bahwa TikTok “merusak otak” atau pasti menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan berkonsentrasi. Penelitian yang ada masih menunjukkan hubungan yang beragam, dan sebagian besar penelitian belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat. Haque juga menekankan bahwa penelitian mengenai TikTok dan fungsi kognitif masih membutuhkan penelitian jangka panjang dan desain eksperimental yang lebih kuat.
Jadi, apabila setelah terlalu lama bermain TikTok seseorang merasa sulit kembali fokus belajar atau bekerja, hal tersebut lebih tepat dilihat sebagai masalah pola penggunaan dan pengelolaan perhatian, bukan langsung dianggap sebagai kerusakan fungsi otak.
4. TikTok Bisa Membantu Belajar, tetapi Juga Bisa Mengganggu
TikTok tidak hanya berisi hiburan. Banyak konten edukasi yang menyajikan informasi dalam bentuk singkat dan mudah dipahami. Model seperti ini bahkan mulai dimanfaatkan dalam pembelajaran.
Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dapat menjadi distraksi. Dalam sebuah penelitian pada mahasiswa, penggunaan TikTok berkaitan dengan gangguan perhatian terhadap aktivitas belajar, sementara distraksi tersebut memiliki hubungan dengan performa akademik.
Dengan kata lain, masalahnya tidak selalu terletak pada TikTok, tetapi pada apakah pengguna mampu berhenti ketika waktunya belajar.
5. Bagaimana TikTok Memengaruhi Cara Kita Melihat Diri Sendiri?
Konten mengenai kecantikan, olahraga, diet, dan bentuk tubuh sangat mudah ditemukan di media sosial. Masalahnya, apa yang terlihat di layar tidak selalu menggambarkan kondisi nyata. Foto maupun video dapat menggunakan filter, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, hingga berbagai bentuk penyuntingan.
Menariknya, penelitian di Indonesia terhadap 507 pengguna TikTok berusia 17–26 tahun, yang dilengkapi wawancara terhadap 32 responden, menemukan bahwa perbandingan penampilan dengan orang lain serta internalisasi standar tubuh tertentu berkaitan dengan kepuasan terhadap citra tubuh yang lebih rendah.
Penelitian lain yang melibatkan 421 perempuan muda juga menunjukkan bahwa jenis konten yang ditonton dapat menghasilkan efek yang berbeda. Konten yang menekankan standar tubuh tertentu berkaitan dengan peningkatan ketidakpuasan terhadap tubuh, sedangkan konten anti-diet justru memberikan hasil yang lebih positif terhadap kepuasan dan penghargaan terhadap tubuh.
Ini menunjukkan bahwa bukan hanya durasi penggunaan yang penting, tetapi juga isi dari apa yang kita konsumsi.
Jadi, Haruskah Berhenti Menggunakan TikTok?
Tidak sesederhana itu.
Penelitian mengenai TikTok menunjukkan adanya dua sisi. Platform ini dapat digunakan untuk hiburan, edukasi, mendapatkan dukungan sosial, dan menyebarkan informasi kesehatan. Namun, penggunaan yang berlebihan atau sulit dikendalikan dapat berkaitan dengan berbagai masalah seperti gangguan tidur, kecemasan, distraksi belajar, serta masalah citra tubuh.
Karena sebagian besar penelitian yang ada masih bersifat observasional, hasilnya perlu dipahami sebagai hubungan, bukan bukti bahwa TikTok secara langsung menyebabkan semua masalah tersebut.
Bagaimana Menggunakan TikTok dengan Lebih Sehat?
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu:
- Tentukan batas waktu penggunaan, terutama jika mulai mengganggu pekerjaan, belajar, atau aktivitas sehari-hari.
- Hindari penggunaan menjelang tidur, terutama jika Anda sering kehilangan waktu tidur karena terus menggulir video.
- Perhatikan konten yang dikonsumsi. Jika suatu konten membuat Anda terus membandingkan diri atau merasa tidak cukup baik, pertimbangkan untuk berhenti mengikuti konten tersebut.
- Jangan langsung percaya informasi kesehatan di media sosial. Pastikan informasi berasal dari sumber kesehatan yang terpercaya.
- Kenali tanda kehilangan kendali, misalnya terus membuka TikTok meskipun sebenarnya ingin berhenti atau harus melakukan aktivitas lain.
Pada akhirnya, TikTok hanyalah sebuah alat. Yang paling penting bukan sekadar berapa lama kita menggunakannya, tetapi apakah penggunaannya masih berada dalam kendali kita.
Penulis: dr. Kayyis Hawari
Merasa penggunaan media sosial mulai mengganggu tidur, suasana hati, atau aktivitas sehari-hari? Konsultasikan dengan dokter kami di RSIA Cempaka Putih Permata.
Buat Janji Sekarang
