Rawat Inap

DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

Oleh dr. Azril Okta Ardhiansyah SpB

Kanker payudara adalah jenis kanker yang sering diderita kaum wanita, bahkan menduduki peringkat pertama untuk penyakit kanker di Indonesia. Kaum pria juga dapat terserang kanker payudara walaupun lebih kecil kemungkinannya 1 : 1000. Kebanyakan penderita kanker payudara datang terlambat karena beberapa alasan antara lain karena terlambat menyadari adanya perubahan pada payudaranya dan tidak merasakan nyeri pada payudaranya. Banyak pasien juga memilih pengobatan alternatif dengan biaya yang mahal karena takut kehilangan payudaranya dan ujung – ujungnya berakhir dengan semakin parah kondisi penyakitnya dan tidak jarang yang sudah memasuki stadium akhir ketika datang ke dokter.

            Gejala kanker payudara yang paling sering dirasakan pasien adalah benjolan pada payudara. Benjolan kanker umumnya tidak terasa nyeri kecuali jika telah memasuki stadium lanjut sehingga pasien terlambat datang ke dokter karena tidak merasa terganggu. Gejala yang lain adalah adanya eksem pada puting susu dan keluarnya cairan dari puting susu. Cairan ini dapat berwarna merah (bloody) maupun bening (watery). Cairan merah belum tentu berasal dari sel kanker karena dapat disebabkan oleh kelainan yang jinak. Cairan yang bening ditandai dengan BH yang selalu basah. Pasien juga sering datang dengan kondisi payudara yang sudah mengalami borok dan ini menandakan penyakit yang sudah lanjut   

            Karena seringnya pasien datang dalam stadium lanjut, maka sangat penting untuk mengenali gejala kanker tersebut melalui deteksi dini. Hal ini bisa dicapai melalui skrining dengan mamografi maupun SADARI dan mengenali faktor risiko timbulnya kanker payudara. Mamografi merupakan pemeriksaan radiologi yang mahal dan tidak semua orang bisa melakukannya. Cara yang lebih efektif dari segi biaya adalah dengan SADARI (Periksa Payudara Sendiri). SADARI dilakukan pada hari kelima sampai ketujuh setelah menstruasi hari terakhir (bersih) karena pada saat itu payudara berkembang maksimal sehingga lebih memudahkan untuk meraba bila terdapat benjolan. Pemeriksaan dilakukan di depan kaca dengan sebelah tangan terangkat dan tangan yang lain meraba payudara dengan gerakan memutar dari pusat ke tepi atau sebaliknya. Pemeriksaan ini dapat juga dilakukan dengan gerakan radier maupun vertikal naik turun berurutan.

            Mengenali faktor risiko timbulnya kanker payudara juga penting agar kita bisa lebih waspada meskipun tidak semua faktor risiko itu bisa dihindari. Faktor risiko tersebut antara lain adalah:

  •              Riwayat keluarga pernah menderita kanker payudara.
  • Faktor hormonal antara lain menstruasi pertama pada usia kurang dari 12 tahun, menopause pada usia lebih dari 55 tahun, penggunaan pil KB lebih dari 10 tahun, penggunaan Terapi Sulih Hormon lebih dari 5 tahun, usia melahirkan anak pertama lebih dari 30 tahun, dan wanita yang tidak mempunyai anak. Menyusui merupakan faktor yang bisa menurunkan risiko.
  •  Riwayat radioterapi pada waktu remaja.
  •  Obesitas.
  • Diet tinggi kalori dan lemak terutama yang berasal dari kolesterol. Di sisi lain diet tinggi sayur, buah – buahan, vitamin E dan C merupakan faktor yang menurunkan risiko
  • Pengobatan kanker payudara merupakan terapi multimodalitas yang merupakan gabungan dari operasi, kemoterapi, radioterapi, hormonal terapi, maupun targeted terapi, tergantung dari jenis kanker. Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa operasi bukanlah terapi satu – satunya dan operasi merupakan pintu untuk penanganan kanker selanjutnya dalam jangka panjang.

VISI

Menjadi Rumah Sakit Pilihan utama masyarakat.

MISI

Menjujung Profesionalisme, Melayani secara prima, Memberikan  Kenyamanan.

MOTTO

Nyaman serasa di rumah.

KARAKTER

TAJAMM hati dan Pikiran (Tanggung Jawab, Jujur , Aktif , Manut dan Mesem).

Informasi Kontak

Kategori : Hospital
Address : Jalan Jambangan Kebon Agung No. 8, Jambangan, Jawa Timur 60231, Indonesia.
Phone : +6231 8282350
Humas : Sri Mulyani (085330771600)

Google Maps